KENAKALAN
REMAJA DAN MASALAH REPRODUKSI NYA
SEBUAH
KARYA TULIS ILMIAH SEDERHANA
MATA
KULIAH: BAHASA INDONESIA
DOSEN:
DISUSUN
OLEH:
NAMA: DEVITA
VERA HOTMA ULI SITUNGKIR
NPM:14.111007.13201.0079
KELAS:ID
SEMESTER:
1(SATU)
TAHUN
AJARAN:2014/2015
FAKULTAS
KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS
WIDYA GAMA MAHAKAM SAMARINDA
2014
KATA
PENGANTAR
Bicara tentang kesehatan adalah hal yang
utama dalam kehidupan, dimana kita terbebas dari segala penyakit, dan
gangguan-gangguan yang dapat mempengaruhi tubuh kita. Sama hal nya dengan
kenakalan remaja yang saaat ini sedang beredar di belahan bumi ini. Kenakalan
remaja adalah salah satu tingkahlaku yang tidak diharapkan dalam setiap
lingkungan, baik dalam lingkungan remaja, maupun masyarakat. Untuk itu, saya
mengambil judul makalah ini sebagai MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA.
Makalah ini akan membahas bagaimana cara menghadapi masalah-masalah para
remaja, bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut. Dan di dalam makalah
ini akan dijelaskan apa saja akibat dari kesalahan-kesalahan yang di lakukan
para remaja saat ini.
Dengan pembuatan makalah ini saya berharap dapat
membantu para remaja dalam menyelesaikan masalah nya dengan cara-cara yang
benar. Dapat menambah literatur dan menunjang proses pembelajaran kesehatan
masyarakat bagi para mahasiswa kesehatan, terutama di bidang kesehatan
masyarakat. makalah ini juga diharapkan dapat menambah ilmu para bagi para
remaja, dapat memotivasi remaja agar tidak melakukan hal-hal yang tidak
diharapkan.
Kritik dan saran yang bersifat membangun, baik dari
teman-teman terutama Dosen sangat saya harapkan guna membantu saya dalam proses
pembuatan karya ilmiah ini lebih baik lagi, karena ini akan menjadi bekal dalam
proses pembuatan skripsi saya pada akhir semester yang akan datang,
terimakasih.
penulis
Devita
Vera Hotmauli Situngkir
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar...................................................................................................... i
Daftar
Isi.............................................................................................................. ii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah........................................................................ 1
B. Perumusan
Masalah............................................................................... 1
C. Tujuan
Penulisan.................................................................................... 2
D. Metode
Penulisan.................................................................................. 2
E. Manfaat
Penulisan................................................................................. 2
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Sejarah
Muncul nya Permasalahan Remaja.................................................. 3
1. Dampak Ketidakseimbangan
Pembangunan............................................ 4
B. Remaja
DanPermasalahan nya..................................................................... 5
1. Aspek
Perubahan Remaja...................................................................... 6
a. Perubahan
Fisis (Pubertas)............................................................... 6
b. Perubahan
Fisikologis...................................................................... 6
2. Determinan
Perkembangan Remaja....................................................... 7
C. Perilaku
Seksual Remaja Dan Kesehatan Reproduksi ................................ 8
D. Perilaku
Seksual Beresiko Pada Remaja Saat Ini...................................... 10
1. Hamil
di Luar Nikah............................................................................ 12
2. Penyakit
Menular Seksual (PMS)- HIV/AIDS.................................... 13
3. Psikologis............................................................................................. 14
a.
Penyebab Kenakalan Remaja................................................. 15
BAB 3 PENUTUP
A. KESIMPULAN................................................................................... 18
B. SARAN............................................................................................... 18
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pengambilan judul ini
berdasar kan ide dan pemikiran saya dimana ketika saya melihat para remaja yang
sedang berkumpul atau nongkrong di warung-warung dan merokok di tempat umum
itu, bermain dengan orang tua atau tidak sejawat dengan sang remaja. jika ada
remaja yang seperti itu berarti ada hal-hal negatif yang telah mereka lakukan
dan menurut saya itu adalah tindakan atau tingkah laku yang tidak baik bagi
remaja atau anak-anak lain nya. Oleh karena itu, saya jadi tertarik dan
mengangkat judul Remaja Dan Masalah Reproduksi nya sebagai karya ilmiah saya.
B.
PERUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka saya merumuskan masalah ini sebagai berikut:
1.
Apa
pengertian remaja?
2.
Bagaimana
perkembangan psikologi remaja?
3.
Apa macam-macam
kenakalan remaja ?
4.
Apa penyebab
kenakalan remaja?
5.
Bagaimana
solusi untuk mengatasi kenakalan remaja?
C.
TUJUAN
PENULISAN
Dari
beberapa bahan bacaan dan juga penelitian saya berharap:
1.
Mengetahui
pengertian remaja dan ciri cirinya
2.
Mengetahui perkembangan
psikologi remaja pada saat ini
3.
Mengetahui
macam-macam kenakalan remaja
4.
Mengetahui
penyebab kenakalan remaja
5.
Mengetahui
solusi untuk mengatasi kenakalan remaja.
D.
METODE
PENULISAN
Pengumpulan data
berdasarkan pandangan, internet, dan buku-buku tentang kesehatan masyarakat
Edisi Revisi 2011
E.
MANFAAT
PENULISAN
1.
Kiranya makalah ini dapat membantu atau
memberikan motivasi atau rahan-arah positiv terhadap remaja saat ini.
2.
Untuk menunjukkan kepada remaja bahwa
hal-hal yang dilakukan nya tidak baik. Dan itu bisa berakibat fatal.
BAB II PEMBAHASAN
A.
KENAKALAN
DAN MASALAH MASALAH REPRODUKSI REMAJA REMAJA
Masa remaja
sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan. Pada masa-masa ini, seorang
anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi,
menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah,
sekolah, atau di lingkungan.
Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang. Meningkatnya tingkat kriminal di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi banyak juga dari kalangan para remaja. Tindakan kenakalan remaja sangat beranekaragam dan bervariasi dan lebih terbatas jika dibandingkan tindakan kriminal orang dewasa. Juga motivasi para remaja sering lebih sederhana dan mudah dipahami misalnya :
Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang. Meningkatnya tingkat kriminal di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi banyak juga dari kalangan para remaja. Tindakan kenakalan remaja sangat beranekaragam dan bervariasi dan lebih terbatas jika dibandingkan tindakan kriminal orang dewasa. Juga motivasi para remaja sering lebih sederhana dan mudah dipahami misalnya :
pencurian
yang dilakukan oleh seorang remaja, hanya untuk memberikan hadiah kepada mereka
yang disukainya dengan maksud untuk membuat kesan impresif yang baik atau
mengagumkan. Akibatnya,
para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan
terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan
munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan
pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan
Mengakhiri abad ke-20 dan mengawali
abad ke-21 ini ditandai oleh fenomena transisi kependudukan di inndonesia.
Fenomena ini memang sebagai konsekuensi pembangunan, khusus nya pembangunan di
bidang kependudukan. Adanya transisi demografi ini menyebabkan perubahan pada
struktur penduduk, terutama struktur penduduk menurut umur. Apabila sebelumnya
penduduk yang terbesar adalah anak-anakmaka dalam masa transisi ini proporsi
penduduk usia remaja semakain besar. Terdapat 36.600.000 (21% dari total
penduduk) remaja di Indonesia dan diperkirakan jumlahnya mancapai 43.650.000
pada anad ke -21.
Jumlah
remaja yang tidak sedikit itu merupakan potemsi yang samgat berarti dalam
melanjutkan pembangunan di Indonesia. Berbagai upaya untuk menggali potensi itu
telah dilakukan. Seperti yang tercantum dalam Garis-Garis Besar Pembangunan
Indonesia bahwa pembinaan anak dan remaja dilaksanakan melalalui penongkatan
mutu giji, pembinaan perilaku kehidupan beragana dan budi pekerti luhur,
penumbuhan minat belajar, peningkatan
daya cipta dan daya nalar serta
kreativitas, penumbuhan kesadaran hidup sehat, serta penumbuhan idealisme dan
patrionalisme. Hal-hal tersebut merupakan perwujudan pengamalan Pancasila dan peningkatan
kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masyarakat. Meskipun begitu,
adanya upaya pembangunan yang dilakukan, menyebabkan perubahan pada seluruh
aspek kehidupan, termasuk kehidupan remaja. Sebetulnya jika upaya yang
dilakukan itu seimbang dan propesional tentu tidak akan menimbulkan masalah
yang cukup berarti. Akan tetapi adanya ketidakseimbangan upaya pembangunan yang dilakukan terutama
terhadap remaja, akhirnya menimbulkan masalah bagi pembangunan itu sendiri.
A. Dampak
Ketidakseimbangan Pembangunan
1.
Terjadinya
perubahan mendasar yang menyangkut
sikap.
2.
Perilaku
seksual pranikah di kalangan remaja.
3. Perubahan tersebut telah menjadi
masalah yang memprihatinkan masyarakat Indonesia, terutama dalam satu dekade
terakhir ini.
Apabila di amerika Latin anak
muda berusia 15-24 tahun melakukan intercourse(hubungan seksual) rata-rata pada
usia 15 tahun bagi laki-laki dan usia17 tahun bagi perempuan. Sedangkan di
Indonesia satu dari lima anak pertama yang dilahirkan oleh wanita yang menikah
di usia 20-24 tahun merupakan anak hasil hubungan seksual sebelum menikah.
Maraknya pemberitahuan di media massa mengenai percum, kupu-kupu muda perek kampus, dan sebagai istilah lain nya
yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seksual remaja. Tidak tepat dan
tidak benarnya mengenai informasi seksual dan reproduksi yang mereka terima
semakin membuat ruyam masalah perilaku seksual remaja pranikah kini.
Adanya perubahan sikap dan
perilaku seksual remaja pranika itu tentu akan memberikan dampak terhadap
kehidupan mereka, terutama kesehatan reproduksi nya. Hamil dan melahirkan anak
di usia muda atau melakukan aborsi, tertular penyakit seksual, dan disidang
dalam pengadilan sosial masyarakat
merupakan dampak dari perilaku seksual remaja pranikah yang harus di terima
oleh remaja. Adanya dampak tersebut menyebabkan mereka yang semula di harapkan
sebagai subjek pembangunan justru akan
menjadi beban dari pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, dampak yang di
timbulkan oleh perilaku seksual remaja pranikah dan juga seksual reaja pranikah
itu sebagai akar masalah harus segera diatasi.
Melihat jumlah remaja yang cukup
besar tidak tertutup kemungkinan perilaku seksual remaj pranikah dan dampak
yang di timbulkan (dalam hal ini dampak kesehatan reproduksi) akan menjadi
salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dibawah ini akan di
ungkapkan dan di bahas sebagian kecil permasalahan remaja dewasa ini.
B. REMAJA DAN PERMASALAHAN NYA
Masalah
remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini
merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa
yang meliputi perubahan fisiologis, dan perubahan sosial. Di sebagian besar
masyarakat dan budaya, masa remaja pada
umumnya di mulai pada usia 18-22 tahun. Sedangkan menurut World Health
Organization(WHO). remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa
peralihan secar berangsur-angsur mencapai kematangan seksual, mengalami
perubahan jiwa anak-kanakan menjadi dewasa,
dan mengalami perunbahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi
relatif mandiri.
Mohammad (1994) mengemukakan bahwa remaja
adalah anak berusia 13-25 tahun, dimana usia 13 tahun merupakan batas usia
pubertas pada umum nya, yaitu secara biologis sudah mengalami kematangan
seksual dan usia 25 tahun adalh usia adalah usia keika mereka pada umumnya
secara sosial dan fisiologis mampu mandiri. Berdasarkan uraian tersebut ada dua hal menyangkut batasan remaja, yaitu
mereka kadang mengalami perubahandari masa kanak-kanak ke masa dewasa dan
perubahan terssebut menyangkut perunahan fisik dan psikologis .
1.
ASPEK
PERUBAHAN REMAJA
Dua
aspek pokok dalam perubahan pada remaja, yakni perubahan fisik atau biologis
dan perubahan psikologis.
a.
Perubahan
Fisis (pubertas)
Masa
remaja di awali dengan pertumbuhan yang cepat dan biasa nya disebu pubertas. Seperti yang
dikemukakan oleh Santrock (1993) puberty
is a raid change to physical maturation involving hormonal and bodily changes
that occur primarily during early adolescence. Dengan adanya perubahan yang
cepat itu terjadi perubahan fisik yang
dapat diamati seperti pertambahan tinggi dan berat badan pada remaja atau biasa
disebut ‘pertumbuhan’ dan kematangan seksual sebagai hasil dari perubahan
hormonal.
Antara
remaja putra dan remaja putri kematangan seksual terjadi pada usia yang
berbeda. Coleman and Hendry (1990) dan Walton(1994) mengatakan bahwa kematangan
seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10-13,5 tahun sedangkan
pada remaja perempuan terjadi pada usia 9- 15 tahun. Bagi anak laki-laki
perunahan itu di tandai oleh perkembangan organ seksual, mulai tumbuhnya rambut
kemaluan, perubahan suara, dan juga ejakulasi pertama melalui wet dream atau mimpi basah sedangkan
pada remaja putri pubertas ditandai dengan menarche
(haid pertama), perubahan pad dada ( mammae),
tumbuhnya rambut kemaluan, dan juga pembesaran panggul. Usia menarche juga
bervariasi dengan rentang umur 10 hingga 16,5 tahun.
Dari
beberapa penelitian sejak seratus tahun terakhir menunjukkan bahwa ada
kecenderungan semakin cepat nya remaja mengalami menarche. Pada tahun 1860 rata-rata usia
remaja mengalami minarche adalah 16 tahun 8 bulan dan pada tahun 1975 umur 12
tahun 3 bulan. Adanya penurunan umur minarche tersebut disebabkan karena adanya
perbaikan gizi, perbaikan pelayanan
kesehatan, dan lingkungan masyarakat.
Semakin cepat seseorang mengalami minarche tentu semakin cepat pula ia memasuki
masa reproduksi.
b.
Perubahan
Psikologis
Masa
remaja merupakan masa transisi anatara masa kanak-kanakan dan dewasa. Masa
transisi seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan pada situasi yang
membigungkan, di satu pihak ia masih kanak-kanak dan di lain pihak ia harus
bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik
itu,sering menyebabkan banyak tingkah laku yana aneh, cangguh, dan kalau tidak
di kontrol bisa menimbulkan kenakalan.
Masa
remaja merupakan masa dimana benyak terjadi perubahan fisik sebagai akibat
mulai berfungsinya kelenjar endokrin yang menghasilkan berbagai hormon yang
mempengaruhi pertumbuhan secara keseluruhan dan pertumbuhan organ seks khusus nya. Masa remaja sering sering
juga disebut sebagai masa pancaroba, masa krisis, dan masa pencarian identitas.
Kenakalan remaja terjadi pada umum nya karena tidak terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan mereka seperti kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan
kompormitas, kebutuhan seksual, kebutuhan yang berhubungan dengan keluarga, dan
kebutuhan akan identitas diri serta kebutuhan popularitas. Dalam usaha untuk
mencari identitas diri, seorang remaja sering membantah orang tua nya karena ia
mulai mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai
tersendiri yang sangat berbeda dengan orang tua nya. Sebenarnya mreka belum
cukup mampu untk berdiri sendiri oleh karena itu mereka sering terjerumus
kedalam kegiatan-kegiatan yag menyimpang dari aturan atau disebut dengan
kenakalan remaja. Salah satu bentuk kenakalan remaja itu adalah perilaku
seksual remaja pranikah.
Pada
masa remaja, labilnya emosi erat kaitan nya denngan perubahan hormon dalam
tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif, bahkan
perbuatan nekad. Ketidakstabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin
thau dan dorongan untuk mencari tahu. Kemampuan pengetahuan Intelegtual pada
rremaja cenderung membuat mereka bersikap kritis, tersalur melalui
perbuatan-perbuatan yang sifat nya eksperimen dan eksploratif. Tindakan dan
sikap seperti ini jika dobingbing dna diarah kan ke yang benar atau baik tentu
berakibat konstruktif dan berguna. Tetapi seringkali pengaruh faktor di luar diri remaja, seperti peer group dan
sekelompok orang cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan yang
negatif sehingga mereka terjerumus kedalam kegiatan yang tidak bermanfaat,
berbahaya bahkan destuktif (Wibowo, 1994).
2.
DETERMINAN
PERKEMBANGAN REMAJA
Pada
bagian ini juga penting diketahui aspek atau faktor-faktor yang berhubungan
atau yang mempengaruhi kehidupan remaja. Keluarga, sekolah, dan tetangga
merupakan aspek yang secara langsung mempengaruhi kehidupan remaja. Sedangkan
sruktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya lingkungan merupaka aspek yang
memberikan pengaruh secar tidak langsung terhadap kehidupan remaja. Secara
garis besarnya ada dua tekanan pokok yang berhubungan dengan kehidupan remaja,
yaitu internal pressure(tekanan dari dalam diri remaja), external
pressure(tekanan dari diri luar remaja).
Tekanan
dari dalam (internal pressure) merupakan tekanan psikologis dan emosional.
Sedangkan teman sebaya, orang tua, guru, dan masyarakat merupakan sumber dari
luar (external pressure). Teori ini akan membantu kita memahami masalah yang
dihadapi remaja salah satu nya adalah masalah
kesehatan reproduksi.
C. PERILAKU SEKSUAL
REMAJA DAN KESEHATAN REPRODUKSI
Perilaku seks remaja terdiri dari
tiga buah kata yang memiliki pengertian yang sangat berbeda satu sama lain nya.
Perilaku dapat di artikan sebagai respon organisme atau respon seseorang
terhadap stimulus(ransangan) yang ada (Notoatmodjo,1993). sedangkan seksual
adalah ransanga-ransangan atau dorongan- dorongan yang berhubungan dengan seks.
Jadi perilaku seksual remaja adalah
tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungaan dengan dorongan seksual yang
datang baik dari dalam dirinya maupun luar dirinya.
Adanya penurunan usia rata-rata
pubertas mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih dini. Dan Adanya
persepsi bahwa diri nya memiliki resiko yang lebih rendah atau tidak beresiko
sam sekali yang berhubungan dengan perilaku seksual, semakin mendorong remaja
memenuhi dorongan seksual pada saat belum menikah. Persepsi seperti ini disebut
youth wulnerabality oleh Quartel
et.al. (1993) juga nmenyatakan bahwa remaja cenderung melakukan understemete terhadap vulnerability diri nya. Banyak remaja
mengira bahwa kehamilan tidak akan terjadi pada intercourse (senggama) yang pertama kali atau mereka merasa bahwa
diri nya tidak akan pernah terinveksi HIV/AIDS karena pertahan tubuh nya cukup
kuat.
Mengenai kesehatan reproduksi,
ada beberapa konsep tentang kesehatan reproduksi, namun dalam makalah ini hanya
akan dikemukakan dua batasan saja. ( ICPD dan Rai dan Nassim). Batasan
reproduksi menurut international
conference on population and deploment (ICPD). hampir pendekatan dengan
batasan ‘sehat’ dari WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah keadaa sehat
jasmani, rohani, dan bukan hanya terlepas dari ketikdak hadiran penyakit atau
kecacatan semata, yang berhubungan denan sistem, fungsi, dan proses
reproduksi(ICPD,1994).
Beberapa tahun sebelum Ray dan
Nassim mengemukakan defenisi kesehatan reproduksi mencakup kondisi dimana
wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks secara aman, dengan atau tanpa
tujuan terjadinya kehamilan, dan apabila kehamilan di ingikan, wanita
kemungkinan menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan anak sehat serta di
dalam kondisi siap merawat anak yang dilahirkan(Iskandar,1995).
Dari kedua defenisi kesehatan
reproduksi tersebut ada beberapa faktor yang berhubungan dengan status
kesehatan reproduks seseorang, yaitu faktor sosial, ekonomi, budaya, perilaku
lingkungan yang tidak sehat, dan ada tidak nya fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menangani atau
mengatasi gangguan jasmani dan rohani. Dan tidak adanya akses informasi
merupakan faktor tersendiri yang mempengaruhi kesehatan reproduksi. Secara umum
terdapat 4 faktor yang berhubungan dengan
kesehatan reproduksi antara lain:
1. Faktor sosial –ekonomi, dan
demografi. Faktor ini berhubungan dengan kemiskinan, tingkat pendidikan yang
rendah dan ketidaktahuan mengenai perkembangan seksual dan proses reproduksi,
serta lokasi tempat tinggal yang terpencil.
2.
Faktor
budaya dan lingkungan, antara lain adalah praktik tradisional yang berdampak
buruk terhadap kesehatan reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rejeki, dan
informasi yang membingungkan anak dan remaja mengenai fungsi dan proses
reproduksi.
3.
Faktor
psikologis: Keretakan orang tua akan memberkan dampak pada kehidupan remaja,
depresi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga
nya wanita dimata pria yang membeli kebebasan dengan materi.
4. Faktor biologis, antara lain cact
sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi, dan sebaginya.
Perilaku
seksual merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang sangat berhubungan
dengan kesehatan reproduksi seseorang. Pada pasal & rencana kerja ICPD
Kairo dicantumkan defenisi kesehatan repproduksi menyebabkan lahirnya hak-hak
reproduksi. Berdasarkan pasal tersebut hak-hak reproduksi didasrkan pada
pengakuan hak-hak asasi semua pasangan dan pribadi untuk menentukan secara
bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarangan anak(birth
spacing), dan menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka dan mempunyai informasi dan cara untuk memperolehnya, serta hak untuk
menentukan standar tertinggi kesehata seksual dan repsroduksi. Dalam pengertin
ini ada jaminan individu untuk memperoleh seks yang sehat di samping reproduksi
yang sehat(ICPD, 1994). Sudah barang tentu saja kedua faktor tersebut akan
sangat mrempengaruhi tercapainya atau tidak kesehatan reproduksi seseorang,
termasuk kesehatan reproduksi remaja.
D. PERILAKU SEKSUAL
BERESIKO PADA REMAJA SAAT INI
Seperti telah dikemukakan di bagian
pendahuluan, cbanyak penelitian dan berita di media massa yang menggambarkan
fenomena perilaku seksual remaja pranikah di Indonesia. Sebenarnya perilaku
seksual remaja pranikah sudah ada sejak dahulu. Tetapi informasi tentang
perilaku tersebut cenderung tidak terungkap secara luas. Sekarang kondisi
masyarakat telah berubah, dengan telah makin terbuka nya arus inforrmasi, makin
banyak pula penelitian, studi yang mengungkapkan permaslahan perilaku seksual
remaja, termasuk hubungan seksual pranikah. Di Indonesia sendiri ada beberapa
penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah.
Berikut ini ada beberapa penelitian kuantitatif dan kualitatif yang
menggambarkan fenomena tersebut.
Pada tahun 1981, Pangkahila melakukan
penelitian di Bali terdapat ABG(anak baru gede) ternyata pengalaman seksual
mereka lebih jauh. Terdapat 56,0% dari mereka pernah melakukan ciuman bibir,
31,0% yang pernah diransang alat kelamin nya, dan bahkan pernah melakukan
hubungan seksual sebanyak 25,0%. Satu tahun kemudian, Sarlito (1982) melakukan
penelitian di Jakarta, ternyata hanya 75,0% responden remaja putri yang
diteliti masih menjaga kegadisan nya. Artinya, 25,0% remaja putri telah
melakukan hubungan seks. Kemudia penelitian di Yogyakarta(1985) terungkap bahwa
13,0% dari 864 pernikahan yang di dahului oleh kehamilan. Dan pada Tahun 1985
hasil penelitian Biran Affandi menunjukkan bahwa 80,0% dari remja yang hamil
melakukan hubungan seksual di rumah mereka sendiri.
Pada tahun 1989 penelitian yang dilakukan
oleh fakultas psikologi UI juga menunjukkan bahwa ada 61,0% anak usia 16-20
tahun pernah melakukan seksual intercourse (senggama) dengan teman nya. Dan
suatu penelitian terhadap siswa SMTP di
Bandung ternyata terdapat 10,53% dari mereka pernah melakukan ciuman bibir,
5,60% pernah melakukan ciuman dalam, dan 3,86% pernah melakukan hubungan
seksual. Penelitian yang dilakukan oleh sebuah majalah mingguan ibukota dengan
responden 100 orang pelajar dari 26 SMA di Jakarta, menunjukkan bahwa 41,0%
pernah mencoba alat vital lawan jenis, dan 12,o%pernah menyenggol. hanya 1,0%
saja yang tidak pernah mengalami hubungan seks dengan lawan jenis. Walaupun
masih diperdebatkan dkebenaran hasil penelitian tersebut palingtidak data
diatas mengingatkan kita betapa besarnya masalah perilaku seks pada remaja.
Hasil yang tidak begitu jauh berbeda juga
dengan yang terjadi pada mahasiswa. Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta
(Dasakung 1984) mengungkapkan bahwa 62% mahasiswa melakukan dengan istilah “kumpul
kebo” surve kecil yang dilakukan oleh fakultas psikologi UI(1993) terhadap 200
Responden menunjukkan bahwa alasan yang
di kemukakan oleh sebagian mahasiswa adalah untuk mengungkapkan kasih sayang
(36,20%), terbawa suasana (14,0%), dan untuk kenikmatan dan kesenangan (10,1%).
Masih banyak lagi hasil penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual
remaja pranikah, di antaranya disajikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 1
Perilaku, Tindakan Waktu Pacaran
Remaja DKI Jakarta Dan DI Yogyakarta
NO
|
Perilaku,
Tindakan
|
DKI
|
DIY
|
DKI+DIY
|
|||
N
|
%
|
N
|
%
|
N
|
%
|
||
1
|
Berkunjung
kerumah, bercanda
|
512
|
42.9
|
478
|
39.8
|
990
|
41.3
|
2
|
Cium
pipi
|
141
|
11.8
|
147
|
12.3
|
288
|
12.0
|
3
|
Cium
bibir
|
330
|
27.6
|
277
|
23.1
|
607
|
25.4
|
4
|
Memegang
buah dada
|
86
|
7.2
|
143
|
11.9
|
229
|
9.6
|
5
|
Memegang
alat kelamin
|
75
|
6.3
|
105
|
8.7
|
180
|
7.5
|
6
|
Berhubungan
seks
|
50
|
4.2
|
40
|
4.2
|
90
|
4.2
|
sumber:
RamlBandy, dkk., 1995
Bila kita lihat kecenderungan perilaku
seksual remaja pranikah berdasarkan tempat tinggal mereka, ternyata baik di
desa maupun di kota perilaku tersebut juga sangat memprihatinkan. Penelitian
yang dilakukan oleh Faturochman dan Soetjipto di Bali (1989) menunjukkan bahwa
persentase remaja laki-laki di desa dan di kota telah melakukan hubungan seks
masing-masing adalah 23,6% dan 33,5%. Sedangkan penelitian Singarimbun (1994)
menemukan 1,8% remaja wanita di desa san 36% remaja wanita di kota pernah
melakukan hubung an seks pranikah.
Penelitian dilakukan oleh Laboratorium Antropologi FISIP UI Hidayan dan
Saefuddin, (1997) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku seksual yang
cukup mencolok pada remaja di desa dan remaja di kota di Sumatera Utara dan Di
Kalimantan Selatan. Dikedua tempat penelitian itu terlihat ada kecenderungan
perilaku seksual yang permisif baik di desa maupun di kota.
Faktor-faktor yang saling terkait
kondisi saat ini menyebabkan perilaku seksual remaja semakin menggejala
akhir-akhir ini. Namun begitu,banyak remaja tidak mengindahkan bahkan tidak
tahu dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan dan dampak nya terhadap
kesehatan reproduksi baik dalam waktu cepat ataupun waktu yang lebih panjang.
sehubung dengan defenisi kesehatan
reproduksi yang telah di bahas terlebih dahulu, berikut ini akan dibahas mengenai beberapa dampak perilaku seksual
remaja pranikah terhadap kesehatan reproduksi.
1.
Hamil Yang Tidak Di
Kehendaki(Hamil di luar Nikah(Unwanted Pregnancy)
Unwanted
pregnacy(kehamilan yag tidak di kehendaki) merupakan salah satu akibat dari
perilaku seksual remaja. Anggapan-anggapan yang keliru seperti: melakukan
hubungan sek pertama kali, atau hubungan seks jarang dilakukan, atau perempuan
masih muda usia nya, atau bila hubungan seks dilakukan sebelum atau sesudah
menstruasi, atau bila menggunakan tehnik coitus
interuptus (senggama terputus), kehamilan tidak akan terjadi merupakan
pencetus semakin banyak kasus unwanted pregnancy. Seperti salah satu pada kasus
penelitian Khisbiyah(1995) ada responden mengatakan, Untuk menghindari
kehamilan maka hubungan seks dilakukan di antara dua waktu menstruasi.
Informasi itu tentu saja bertentangan dengan kenyataan bahwa sebenarnya masa
antara dua siklus menstruasi itu merupakan masa subur bagi seorang wanita.
Unwanted
pregnancy membawa remaja kepada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau
menggugurkan nya. Menurut Khisbyah(1995) secara umum ua faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan itu, yakni faktor internal dan faktor
eksternal.
a.
Faktor
internal meliputi, Intensitas hubungan dan komitmen pasangan remaja untuk
menjalin hubungan jangka panjang dalam perkawinan, sikap dan persepsi
terhadapjanin yang dikandung, serta persepsi subjektif mengenai kesipan
psikologis dan ekonomi untuk memasuki kehidupan perkawinan.
b.
Faktor
Eksternal meliputi sikap dan penerimaan orang tua kedua belah pihak, penilaian
masyarakat, nilai-nilai normatif, dan etis dari lembaga keagamaan, dan
kaemungkinan-kemungkinan perubahan hidup dimasa depan yang mengikuti
pelaksanaan keputusan yang akan dipilih.
Terlepas dari alasan di atas,
yang pasti melahirkan dalam usia remaja(early childbearing) dan melakukan
aborsi merupakan pilihan yang harus mereka jalani. Banyak remaja putri yang
mengalami unmanted pregnancy terur melanjutkan kehamilan nya. Konsekuensi dari
keputusan yanng mereka ambil itu adalah
melahirkan anak yang dikandung nya dalm usia yang relatif muda. Hamil
dan melahirkan dalam usia remaja merupakan salah satu faktor resiko kehamilan
yang tidak jarang membawa kematian ibu. Krmatian ibu yang hamil dan melahirkan
pada usia kurang dari 20 tahun lebih besar 3-4 kali dari kematian ibu yang
hamil dan melahirkan pada usia 20-35 tahun (affandi,1995).
Menurut Wibowo(1994) terjadi
pendarahan pada trimester pertama dan ketiga, anemia, dan persalinan kasip
merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kehamilan remaja. Sebenarnya hal
itu bisa di atasi atau dikurangi dengan pemeriksaan kehamilan(ante natal care),
tetapi karena ada rasa malu (dia telah mengalami unwanted pragmancy di luar
nikah). pelayanan kesehatan yang sudah tersedia jarang di manfaatkan. Selain
itu, kehamilan di usia muda juga berdampak pada anak yang di kandung. Kejadian
berat bayi lahir rendah(BBLR) dan kematian perinatal sering dialami oleh
bayi-bayi yang lahir dari ibu usia muda. Menurut Affandin (1995) tingkat
kematian pada ibu muda usia mencapai 2-3 kali dari kematian anak yang berusia
20-35 tahun.
2.
Penyakit Menular seksual (PMS)-
HIV/AIDS
Dampak
perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah tertular PMS
termasuk HIV/AIDS. seringkali remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman.
Adanya kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan
remaja seakin rentan untuk tertular PMS/HIV, seperti sifilis,genore, herpes,
klamidia, dan AIDS. Dari daata yang menunjukkan bahwa di antara penderita atau
kasus HIV/AIDS, 53% berusia di antara 15-29 tahun. Tidak terbatasnya cara
melakukan hubungan kelamin pada genital-genital saja(bisa juga oroginital).
menyebabkan penyakit kelamin tidak saja terbatas pada daerah genital, tetapi
dapat juga pada daerah-daerah ekstra genital.
Gejala
penyakit AIDS merupakan manifestasi rendahnya kadar limposit T helper,
yang secara bertahap dirusak HIV.segera
sesudah terinfeksi HIV, jumlah limfosit helper akan berkurang dari sekitar 2.000/
menjadi kurang lebih 1.000
dan kemudian secara bertahap jumlah nya makin
berkurang. Limfosit T memegang peran
penting dalam sistem kekebalan tubuh
manusia, sehingga bila jumlah dan fungsinya terganggu
menyebabakan seseorang mudah diserang
penyakit infeksi dan kangker. Dengan
menurun nya sel limposit T4, makin jelas
tampak gejala klinis yang dapat dibedakan menjadi beberapa keadaan, yaitu:
1.
Gejala
dan keluhan yaang disebabkan oleh hal-hal tidak langsung berhubungan dengan
HIV, seperti: diare, demam lebih dari 1 bulan, keringat malam, rasa lelah
berlebihan, batuk kronis lebih dari 1 bulan, dan penurunan berat bada 10% atau
lebih. Apabila yang mencolok adalah
penurunan berat badan, maka ini merupakan salah satu indikator AIDS.
2.
Gejala
langsung akbat HIV, seperti :miopati, neuropati perifer, dan penyakit susunan
saraf otak, hampir 30 % pasien dalam stadium akhir AIDS akan menderita dementia
kompleks, yaitu menurun sampai hilang nya daya ingat, gangguan flingsi motori dan kognitif, sehingga pasien sulit
berkomunikasi dan tidak bisa jalan.
3.
Infeksi
oportunistik dan neoplasma: pada stadium kronis simtomatik ini sangat sedikit
keluhan dan gejala yang benar-benar langsung akibat HIV. Sebagian besar adalah
akibat menurun nya se limposit T4, sehingga dengan terganggunya sentral sistem imun seluler ini,
maka infeksi oportunistik yang sering di alami adalah infeksi virus, parasit,
dan mikobakterium. Neoplasma yang dikenal sebagai penyakit indikator AIDS adalah
sarkoma kaposi dan limpoma sel B.
Masa inkubasi adalah waktu dari terjadinya
infeksi sampai munculnya gejala penyakit yang ditimbulkan HIV yang pertama pada
pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diketahui. Dari penelitian pada sebagian
beasar kasus dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10 tahun berfariasi sangat
leba, yaitu antara bulan sampai lebih dari 10 tahun. Walupun tanpa gejala
,tetapi yang bersangkutan dapat menjadi sumber penularan.
3. Psikologis
Ciri perkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang
meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih, putus asa) dan
kemudian melawan dan memberontak. Emosi tidak terkendali ini disebabkan oleh
konflik peran yang senang dialami remaja. Oleh karena itu, perkembangan
psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja.
Keadaan emosi pada masa remaja masih labil karena erat dengan keadaan
hormon. Suatu saat remaja dapat sedih sekali, dilain waktu dapat marah sekali.
Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri sendiri daripada pikiran yang
realistis. Kestabilan emosi remaja dikarenakan tuntutan orang tua dan
masyarakat yang akhirnya mendorong remaja untuk menyesuaikan diri dengan
situasi dirinnya yang baru. Hal tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan
oleh Hurlock (1990), yang mengatakan bahwa kecerdasan emosi akan mempengaruhi
cara penyesuaian pribadi dan sosial remaja. Bertambahnya ketegangan emosional
yang disebabkan remaja harus membuat penyesuaian terhadap harapan masyarakat
yang berlainan dengan dirinya.
Menurut Mappiare (dalam
Hurlock, 1990) remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau begitu saja menerima
pendapat dan perintah orang lain, remaja menanyakan alasan mengapa sesuatu
perintah dianjurkan atau dilarag, remaja tidak mudah diyakinkan tanpa jalan
pemikiran yang logis. Dengan perkembangan psikologis pada remaja, terjadi
kekuatan mental, peningkatan kemampuan daya fikir, kemampuan mengingat dan
memahami, serta terjadi peningkatan keberanian dalam mengemukakan pendapat.
Dampak
lain dari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan
dengan kesehatan reproduksi adalah konsekuensi psikologis. Setelah kehamilan
terjadi, pihak perempuan- atau tepatnya korban- utama dalm masalah ini. Kodrat
untuk hamil dan melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok
yang sangat dilematis. Dalam pandangan masyarakat, remaja putri yang merupakan
“aib” keluarga, yang secara telak mencoreng nama baik keluarga; dan ia adalah
si pendosa yang melanggar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman sosial ini
tidak jarang meresap dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putri tersebut.
Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah yang di alami remaja setelah
mengetahui kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap
masa depan, dan kadang disertai rasa benci dan marah baik kepada diri sendiri
maupun kepada pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik,
sosial, dan mental yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses
reproduksi remaja tidak terpenuhi.
A.
Penyebab
Kenakalan Remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa
disebabkan oleh faktor dari
remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
a. .Krisis
identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya
dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi
dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja
terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
b. Kontrol diri
yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima
dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun
bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun
tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan
pengetahuannya.
Faktor eksternal:
a. Keluarga
dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau
perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja.
Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak
memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa
menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
b. Teman sebaya
yang kurang baik
c. Komunitas/lingkungan
tempat tinggal yang kurang baik.
E. PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA
1.
Peranan Keluarga terhadap
Kenakalan Remaja
Sarwono (1998) mengatakan bahwa keluarga
merupakan lingkungan primer pada setiap individu. Sebelum anak mengenal
lingkungan yang luas, ia terlebih dahulu mengenal lingkungan keluarganya.
karena itu sebelum anak anak mengenal norma-norma dan nilai-nilai masyarakat,
pertama kali anak akan menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di
keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadiannya.
Orang tua
berperan penting dalam emosi remaja, baik yang memberi efek positif maupun
negative. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua masih merupakan lingkungan yang
sangat penting bagi remaja.
Menurut
Mu’tadin (2002) remaja sering mengalami dilema yang sangat besar antara
mengikuti kehendak orang tua atau mengikuti kehendaknya sendiri. Situasi ini
dikenal dengan ambivalensi dan hal ini akan menimbulkan konflik pada diri
remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri,
sehingga sering menimbulkan hambatan dalam
penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang remaja
menjadi frustasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orang tuanya dan
orang lain disekitarnya. Frustasi dan kemarahan tersebut seringkali di
ungkapkan dengan perilaku perilaku yang tidak simpatik terhadap orang tua
maupun orang lain yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain
disekitarnya.
Penilitian
yang dilakukan BKKBN pada umunya masalah antara orang tua dan anaknya bukan hal
hal yang mendalam seperti maslah ekonomi, agama, social, politik, tetapi hal
yang sepele seperti tugas-tugas di rumah tangga, pakaian dan penampilan.
Menurut
Nalland (1998) ada beberapa sikap yang harus dimiliki orangtua terhadap anaknya
pada saat memesuki usia remaja, yakni :
a. Orang tua perlu lebih fleksibel dalam bertindak dan
berbicara
b. Kemandirian anak diajarkan secara bertahap dengan
mempertimbangkan dan melindungi mereka dari resiko yang mungkin terjadi karena
cara berfikir yang belum matang. Kebebasan yang dilakukan remaja terlalu dini
akan memudahkan remaja terperangkap dalam pergaulan buruk, obat-obatan
terlarang, aktifitas seksual yang tidak bertanggung jawab dll
c. Remaja perlu diberi kesempatan melakukan eksplorasi
positif yang memungkinkan mereka mendapat pengalaman dan teman baru,
mempelajari berbagai keterampilan yang sulit dan memperoleh pengalaman yang
memberikan tantangan agar mereka dapat berkembang dalam berbagai aspek
kepribadiannya.
d. Sikap orang tua yang tepat adalah sikap yang
authoritative, yaitu dapat bersikap hangat, menerima, memberikan aturan dan
norma serta nilai-nilai secara jelas dan bijaksana. Menyediakan waktu untuk
mendengar, menjelaskan, berunding dan bisa memberikan dukungan pada pendapat
anak yang benar.
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah di
jelaskan di atas kita dapat mengambil urain atau rangkuman dari materi diatas
dengan kesimpulan:
1.
Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu
kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh
hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
2.
Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok
tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
3.
Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan
perlindungan bagi sosial.
Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik.
Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik.
B. SARAN
Perilaku
yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti
membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam
yang orangtua berikan, hingga kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian
antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya. sebaiknya
sebagai Orang tua lebih memperhatikan sang anak, memberikan nasehat-nasehat,
memberi kebutuhan yang cukup, dan sebagai anak sebaiknya menurut apa kata orang
tua, boleh bergaul akan tetapi pada orang-orang yang bersifat membangun dan
mengontrol diri terhadap kemajuan jaman atau arus globalisasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Agustina,Farida Mutiarawati Tri. 1995. sexual Health Prevention and Promotion
inYouth. Institute of Population Studies, University of Exerter.
Depkes
RI. 1995. Kumpulan Materi Kesehatan Reproduksi Remaja. _ .1996.
Hidayah,
Irwan Martua et al. 1997. “Perilaku
Seksual Remaja di Kota dan di Desa Kasus Sumatera Utara. Laboratorium
Antropologi FISIP UI”. Fenomena Perilaku
Seksual Remaja Pranikah dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Reproduksi.
Http//:www.Indonesia health.com.
Khbisyah,
Y. et. al.1995. Konsekuensi Psikologi dan
Sosial, Ekonomi yang Menyertai Kehamilan yang Tak di Kehendaki di Kalangan
Remaja. Yogyakarta: Pusat Kajian Strategi dan Kebijakan.
Korip,
Mon Dastri. 1998. Kumpulan Kuliah
Epidemiologi AIDS, Fase Klinis Infeksi HIV. Jakarta:FKM UI. (oleh Tri
Kurniasih).
Mboi,
Nafsiah. 1995. “Pahami Remaja dari Sisi Positif nya.” Warta Demografi, Tahun ke-25 no. 24:11-17
Que
Vadis. “ Study Perilaku Seksual Remaja Indonesia.” Warta Demografi, Tahun ke-25
No. 4:36-42.
Ramonasari.
1995. “Perilaku Remaja dan Kesehatan Reproduksi.” di dalam Kumpulan Makalah
Seminar Hak dan Kesehatan Reproduksi:
Implikasi Pasal 7 Rencana Tindakan Kairo Bagi Indonesia Yogyakarta.
Sahaja-lentera
PKBIDIY.AIDS dan Kesehatan Reproduksi
(Baku Pegangan Peer Educator). PKBI DIY
www.blogger.
Arman, Simanjuntak. 2014. Kenakalan
Remaja. Jakarta
ini