Selasa, 23 Desember 2014

makalah kesehatan

KENAKALAN REMAJA DAN MASALAH REPRODUKSI NYA
SEBUAH KARYA TULIS ILMIAH SEDERHANA
MATA KULIAH: BAHASA INDONESIA
DOSEN: 





DISUSUN OLEH:

NAMA: DEVITA VERA HOTMA ULI SITUNGKIR
NPM:14.111007.13201.0079
KELAS:ID
SEMESTER: 1(SATU)
TAHUN AJARAN:2014/2015

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS WIDYA GAMA MAHAKAM SAMARINDA
2014
KATA PENGANTAR

Bicara tentang kesehatan adalah hal yang utama dalam kehidupan, dimana kita terbebas dari segala penyakit, dan gangguan-gangguan yang dapat mempengaruhi tubuh kita. Sama hal nya dengan kenakalan remaja yang saaat ini sedang beredar di belahan bumi ini. Kenakalan remaja adalah salah satu tingkahlaku yang tidak diharapkan dalam setiap lingkungan, baik dalam lingkungan remaja, maupun masyarakat. Untuk itu, saya mengambil judul makalah ini sebagai MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA. Makalah ini akan membahas bagaimana cara menghadapi masalah-masalah para remaja, bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut. Dan di dalam makalah ini akan dijelaskan apa saja akibat dari kesalahan-kesalahan yang di lakukan para remaja saat ini.
Dengan pembuatan makalah ini saya berharap dapat membantu para remaja dalam menyelesaikan masalah nya dengan cara-cara yang benar. Dapat menambah literatur dan menunjang proses pembelajaran kesehatan masyarakat bagi para mahasiswa kesehatan, terutama di bidang kesehatan masyarakat. makalah ini juga diharapkan dapat menambah ilmu para bagi para remaja, dapat memotivasi remaja agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diharapkan.
Kritik dan saran yang bersifat membangun, baik dari teman-teman terutama Dosen sangat saya harapkan guna membantu saya dalam proses pembuatan karya ilmiah ini lebih baik lagi, karena ini akan menjadi bekal dalam proses pembuatan skripsi saya pada akhir semester yang akan datang, terimakasih.




penulis


Devita Vera Hotmauli Situngkir





DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah........................................................................ 1        
B.     Perumusan Masalah............................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan.................................................................................... 2
D.    Metode Penulisan.................................................................................. 2
E.     Manfaat Penulisan................................................................................. 2
BAB 2 PEMBAHASAN
A.    Sejarah Muncul nya Permasalahan Remaja.................................................. 3
                 1. Dampak Ketidakseimbangan Pembangunan............................................ 4
B.     Remaja DanPermasalahan nya..................................................................... 5
1.      Aspek Perubahan Remaja...................................................................... 6        
a.       Perubahan Fisis (Pubertas)............................................................... 6
b.      Perubahan Fisikologis...................................................................... 6
2.      Determinan Perkembangan Remaja....................................................... 7
C.     Perilaku Seksual Remaja Dan Kesehatan Reproduksi ................................ 8
D.    Perilaku Seksual Beresiko Pada Remaja Saat Ini...................................... 10
1.      Hamil di Luar Nikah............................................................................ 12
2.      Penyakit Menular Seksual (PMS)- HIV/AIDS.................................... 13
3.      Psikologis............................................................................................. 14
a. Penyebab Kenakalan Remaja................................................. 15
BAB 3 PENUTUP
A.    KESIMPULAN................................................................................... 18
B.     SARAN............................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... iii





BAB I  PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pengambilan judul ini berdasar kan ide dan pemikiran saya dimana ketika saya melihat para remaja yang sedang berkumpul atau nongkrong di warung-warung dan merokok di tempat umum itu, bermain dengan orang tua atau tidak sejawat dengan sang remaja. jika ada remaja yang seperti itu berarti ada hal-hal negatif yang telah mereka lakukan dan menurut saya itu adalah tindakan atau tingkah laku yang tidak baik bagi remaja atau anak-anak lain nya. Oleh karena itu, saya jadi tertarik dan mengangkat judul Remaja Dan Masalah Reproduksi nya sebagai karya ilmiah saya.

B.     PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka saya merumuskan masalah ini sebagai berikut:
1.      Apa pengertian remaja?
2.      Bagaimana perkembangan psikologi remaja?
3.      Apa macam-macam kenakalan remaja ?
4.      Apa penyebab kenakalan remaja?
5.      Bagaimana solusi untuk mengatasi kenakalan remaja?

C.    TUJUAN PENULISAN
Dari beberapa bahan bacaan dan juga penelitian saya berharap:
1.      Mengetahui pengertian remaja dan ciri cirinya
2.      Mengetahui perkembangan psikologi remaja pada saat ini
3.      Mengetahui macam-macam kenakalan remaja
4.      Mengetahui penyebab kenakalan remaja
5.      Mengetahui solusi untuk mengatasi kenakalan remaja.





D.    METODE PENULISAN
Pengumpulan data berdasarkan pandangan, internet, dan buku-buku tentang kesehatan masyarakat Edisi Revisi 2011

E.     MANFAAT PENULISAN
1.      Kiranya makalah ini dapat membantu atau memberikan motivasi atau rahan-arah positiv terhadap remaja saat ini.
2.      Untuk menunjukkan kepada remaja bahwa hal-hal yang dilakukan nya tidak baik. Dan itu bisa berakibat fatal.

















BAB II  PEMBAHASAN

A.    KENAKALAN DAN MASALAH MASALAH REPRODUKSI REMAJA REMAJA

Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan. Pada masa-masa ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, atau di lingkungan.
             Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat diungkuri lagi, anda dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang.  Meningkatnya tingkat kriminal di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi banyak juga dari kalangan para remaja. Tindakan kenakalan remaja sangat beranekaragam dan bervariasi dan lebih terbatas jika dibandingkan tindakan kriminal orang dewasa. Juga motivasi para remaja sering lebih sederhana dan mudah dipahami misalnya :
pencurian yang dilakukan oleh seorang remaja, hanya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang disukainya dengan maksud untuk membuat kesan impresif yang baik atau mengagumkan. Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan
Mengakhiri abad ke-20 dan mengawali abad ke-21 ini ditandai oleh fenomena transisi kependudukan di inndonesia. Fenomena ini memang sebagai konsekuensi pembangunan, khusus nya pembangunan di bidang kependudukan. Adanya transisi demografi ini menyebabkan perubahan pada struktur penduduk, terutama struktur penduduk menurut umur. Apabila sebelumnya penduduk yang terbesar adalah anak-anakmaka dalam masa transisi ini proporsi penduduk usia remaja semakain besar. Terdapat 36.600.000 (21% dari total penduduk) remaja di Indonesia dan diperkirakan jumlahnya mancapai 43.650.000 pada anad ke -21.
Jumlah remaja yang tidak sedikit itu merupakan potemsi yang samgat berarti dalam melanjutkan pembangunan di Indonesia. Berbagai upaya untuk menggali potensi itu telah dilakukan. Seperti yang tercantum dalam Garis-Garis Besar Pembangunan Indonesia bahwa pembinaan anak dan remaja dilaksanakan melalalui penongkatan mutu giji, pembinaan perilaku kehidupan beragana dan budi pekerti luhur, penumbuhan minat belajar,  peningkatan daya cipta dan daya nalar  serta kreativitas, penumbuhan kesadaran hidup sehat, serta penumbuhan idealisme dan patrionalisme. Hal-hal tersebut merupakan perwujudan  pengamalan Pancasila dan peningkatan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masyarakat. Meskipun begitu, adanya upaya pembangunan yang dilakukan, menyebabkan perubahan pada seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan remaja. Sebetulnya jika upaya yang dilakukan itu seimbang dan propesional tentu tidak akan menimbulkan masalah yang cukup berarti. Akan tetapi adanya ketidakseimbangan  upaya pembangunan yang dilakukan terutama terhadap remaja, akhirnya menimbulkan masalah bagi pembangunan itu sendiri.

A.     Dampak Ketidakseimbangan Pembangunan
1.      Terjadinya perubahan mendasar yang menyangkut  sikap.
2.      Perilaku seksual pranikah di kalangan remaja.
3.      Perubahan tersebut telah menjadi masalah yang memprihatinkan masyarakat Indonesia, terutama dalam satu dekade terakhir ini.
Apabila di amerika Latin anak muda berusia 15-24 tahun melakukan intercourse(hubungan seksual) rata-rata pada usia 15 tahun bagi laki-laki dan usia17 tahun bagi perempuan. Sedangkan di Indonesia satu dari lima anak pertama yang dilahirkan oleh wanita yang menikah di usia 20-24 tahun merupakan anak hasil hubungan seksual sebelum menikah. Maraknya pemberitahuan di media massa mengenai percum, kupu-kupu muda perek kampus, dan sebagai istilah lain nya yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seksual remaja. Tidak tepat dan tidak benarnya mengenai informasi seksual dan reproduksi yang mereka terima semakin membuat ruyam masalah perilaku seksual remaja pranikah kini.
Adanya perubahan sikap dan perilaku seksual remaja pranika itu tentu akan memberikan dampak terhadap kehidupan mereka, terutama kesehatan reproduksi nya. Hamil dan melahirkan anak di usia muda atau melakukan aborsi, tertular penyakit seksual, dan disidang dalam pengadilan sosial  masyarakat merupakan dampak dari perilaku seksual remaja pranikah yang harus di terima oleh remaja. Adanya dampak tersebut menyebabkan mereka yang semula di harapkan sebagai subjek  pembangunan justru akan menjadi beban dari pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, dampak yang di timbulkan oleh perilaku seksual remaja pranikah dan juga seksual reaja pranikah itu sebagai akar masalah harus segera diatasi.
Melihat jumlah remaja yang cukup besar tidak tertutup kemungkinan perilaku seksual remaj pranikah dan dampak yang di timbulkan (dalam hal ini dampak kesehatan reproduksi) akan menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dibawah ini akan di ungkapkan dan di bahas sebagian kecil permasalahan remaja dewasa ini.

B.  REMAJA DAN PERMASALAHAN NYA
   Masalah remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan fisiologis, dan perubahan sosial. Di sebagian besar masyarakat dan budaya,  masa remaja pada umumnya di mulai pada usia 18-22 tahun. Sedangkan menurut World Health Organization(WHO). remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan secar berangsur-angsur mencapai kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa anak-kanakan menjadi dewasa,  dan mengalami perunbahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif mandiri.
   Mohammad (1994) mengemukakan bahwa remaja adalah anak berusia 13-25 tahun, dimana usia 13 tahun merupakan batas usia pubertas pada umum nya, yaitu secara biologis sudah mengalami kematangan seksual dan usia 25 tahun adalh usia adalah usia keika mereka pada umumnya secara sosial dan fisiologis mampu mandiri. Berdasarkan uraian tersebut  ada dua hal menyangkut batasan remaja, yaitu mereka kadang mengalami perubahandari masa kanak-kanak ke masa dewasa dan perubahan terssebut menyangkut perunahan fisik dan  psikologis .
1.      ASPEK PERUBAHAN REMAJA
Dua aspek pokok dalam perubahan pada remaja, yakni perubahan fisik atau biologis dan perubahan psikologis.
a.       Perubahan Fisis (pubertas)
Masa remaja di awali dengan  pertumbuhan yang cepat  dan biasa nya disebu pubertas. Seperti yang dikemukakan oleh Santrock (1993) puberty is a raid change to physical maturation involving hormonal and bodily changes that occur primarily during early adolescence. Dengan adanya perubahan yang cepat itu terjadi perubahan  fisik yang dapat diamati seperti pertambahan tinggi dan berat badan pada remaja atau biasa disebut ‘pertumbuhan’ dan kematangan seksual sebagai hasil dari perubahan hormonal.
Antara remaja putra dan remaja putri kematangan seksual terjadi pada usia yang berbeda. Coleman and Hendry (1990) dan Walton(1994) mengatakan bahwa kematangan seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10-13,5 tahun sedangkan pada remaja perempuan terjadi pada usia 9- 15 tahun. Bagi anak laki-laki perunahan itu di tandai oleh perkembangan organ seksual, mulai tumbuhnya rambut kemaluan, perubahan suara, dan juga ejakulasi pertama melalui wet dream atau mimpi basah sedangkan pada remaja putri pubertas ditandai dengan menarche (haid pertama), perubahan pad dada ( mammae), tumbuhnya rambut kemaluan, dan juga pembesaran panggul. Usia menarche juga bervariasi dengan rentang umur 10 hingga 16,5 tahun.
Dari beberapa penelitian sejak seratus tahun terakhir menunjukkan bahwa ada kecenderungan semakin cepat nya remaja mengalami  menarche. Pada tahun 1860 rata-rata usia remaja mengalami minarche adalah 16 tahun 8 bulan dan pada tahun 1975 umur 12 tahun 3 bulan. Adanya penurunan umur minarche tersebut disebabkan karena adanya perbaikan  gizi, perbaikan pelayanan kesehatan, dan lingkungan  masyarakat. Semakin cepat seseorang mengalami minarche tentu semakin cepat pula ia memasuki masa reproduksi.

b.      Perubahan Psikologis

Masa remaja merupakan masa transisi anatara masa kanak-kanakan dan dewasa. Masa transisi seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan pada situasi yang membigungkan, di satu pihak ia masih kanak-kanak dan di lain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik itu,sering menyebabkan banyak tingkah laku yana aneh, cangguh, dan kalau tidak di kontrol bisa menimbulkan kenakalan.
Masa remaja merupakan masa dimana benyak terjadi perubahan fisik sebagai akibat mulai berfungsinya kelenjar endokrin yang menghasilkan berbagai hormon yang mempengaruhi pertumbuhan secara keseluruhan dan pertumbuhan organ  seks khusus nya. Masa remaja sering sering juga disebut sebagai masa pancaroba, masa krisis, dan masa pencarian identitas. Kenakalan remaja terjadi pada umum nya karena tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka seperti kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan kompormitas, kebutuhan seksual, kebutuhan yang berhubungan dengan keluarga, dan kebutuhan akan identitas diri serta kebutuhan popularitas. Dalam usaha untuk mencari identitas diri, seorang remaja sering membantah orang tua nya karena ia mulai mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita serta nilai-nilai tersendiri yang sangat berbeda dengan orang tua nya. Sebenarnya mreka belum cukup mampu untk berdiri sendiri oleh karena itu mereka sering terjerumus kedalam kegiatan-kegiatan yag menyimpang dari aturan atau disebut dengan kenakalan remaja. Salah satu bentuk kenakalan remaja itu adalah perilaku seksual remaja pranikah.
Pada masa remaja, labilnya emosi erat kaitan nya denngan perubahan hormon dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif, bahkan perbuatan nekad. Ketidakstabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin thau dan dorongan untuk mencari tahu. Kemampuan pengetahuan Intelegtual pada rremaja cenderung membuat mereka bersikap kritis, tersalur melalui perbuatan-perbuatan yang sifat nya eksperimen dan eksploratif. Tindakan dan sikap seperti ini jika dobingbing dna diarah kan ke yang benar atau baik tentu berakibat konstruktif dan berguna. Tetapi seringkali pengaruh faktor di  luar diri remaja, seperti peer group dan sekelompok orang cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan yang negatif sehingga mereka terjerumus kedalam kegiatan yang tidak bermanfaat, berbahaya bahkan destuktif (Wibowo, 1994).

2.      DETERMINAN PERKEMBANGAN REMAJA

Pada bagian ini juga penting diketahui aspek atau faktor-faktor yang berhubungan atau yang mempengaruhi kehidupan remaja. Keluarga, sekolah, dan tetangga merupakan aspek yang secara langsung mempengaruhi kehidupan remaja. Sedangkan sruktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya lingkungan merupaka aspek yang memberikan pengaruh secar tidak langsung terhadap kehidupan remaja. Secara garis besarnya ada dua tekanan pokok yang berhubungan dengan kehidupan remaja, yaitu internal pressure(tekanan dari dalam diri remaja), external pressure(tekanan dari diri luar remaja).
Tekanan dari dalam (internal pressure) merupakan tekanan psikologis dan emosional. Sedangkan teman sebaya, orang tua, guru, dan masyarakat merupakan sumber dari luar (external pressure). Teori ini akan membantu kita memahami masalah yang dihadapi remaja salah satu nya adalah masalah  kesehatan reproduksi.

C. PERILAKU SEKSUAL REMAJA DAN KESEHATAN REPRODUKSI
Perilaku seks remaja terdiri dari tiga buah kata yang memiliki pengertian yang sangat berbeda satu sama lain nya. Perilaku dapat di artikan sebagai respon organisme atau respon seseorang terhadap stimulus(ransangan) yang ada (Notoatmodjo,1993). sedangkan seksual adalah ransanga-ransangan atau dorongan- dorongan yang berhubungan dengan seks. Jadi perilaku  seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan oleh remaja berhubungaan dengan dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun luar dirinya.
Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja untuk aktif secara seksual lebih dini. Dan Adanya persepsi bahwa diri nya memiliki resiko yang lebih rendah atau tidak beresiko sam sekali yang berhubungan dengan perilaku seksual, semakin mendorong remaja memenuhi dorongan seksual pada saat belum menikah. Persepsi seperti ini disebut youth wulnerabality oleh Quartel et.al. (1993) juga nmenyatakan bahwa remaja cenderung melakukan understemete terhadap vulnerability diri nya. Banyak remaja mengira bahwa kehamilan tidak akan terjadi pada intercourse (senggama) yang pertama kali atau mereka merasa bahwa diri nya tidak akan pernah terinveksi HIV/AIDS karena pertahan tubuh nya cukup kuat.
Mengenai kesehatan reproduksi, ada beberapa konsep tentang kesehatan reproduksi, namun dalam makalah ini hanya akan dikemukakan dua batasan saja. ( ICPD dan Rai dan Nassim). Batasan reproduksi menurut international conference on population and deploment (ICPD). hampir pendekatan dengan batasan ‘sehat’ dari WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah keadaa sehat jasmani, rohani, dan bukan hanya terlepas dari ketikdak hadiran penyakit atau kecacatan semata, yang berhubungan denan sistem, fungsi, dan proses reproduksi(ICPD,1994).
Beberapa tahun sebelum Ray dan Nassim mengemukakan defenisi kesehatan reproduksi mencakup kondisi dimana wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks secara aman, dengan atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan, dan apabila kehamilan di ingikan, wanita kemungkinan menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan anak sehat serta di dalam kondisi siap merawat anak yang dilahirkan(Iskandar,1995).
Dari kedua defenisi kesehatan reproduksi tersebut ada beberapa faktor yang berhubungan dengan status kesehatan reproduks seseorang, yaitu faktor sosial, ekonomi, budaya, perilaku lingkungan yang tidak sehat, dan ada tidak nya fasilitas  pelayanan kesehatan yang mampu menangani atau mengatasi gangguan jasmani dan rohani. Dan tidak adanya akses informasi merupakan faktor tersendiri yang mempengaruhi kesehatan reproduksi. Secara umum terdapat 4 faktor yang berhubungan dengan  kesehatan reproduksi antara lain:
1.      Faktor sosial –ekonomi, dan demografi. Faktor ini berhubungan dengan kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan mengenai perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil.
2.      Faktor budaya dan lingkungan, antara lain adalah praktik tradisional yang berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rejeki, dan informasi yang membingungkan anak dan remaja mengenai fungsi dan proses reproduksi.
3.      Faktor psikologis: Keretakan orang tua akan memberkan dampak pada kehidupan remaja, depresi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga nya wanita dimata pria yang membeli kebebasan dengan materi.
4.      Faktor biologis, antara lain cact sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi, dan sebaginya.
   Perilaku seksual merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi seseorang. Pada pasal & rencana kerja ICPD Kairo dicantumkan defenisi kesehatan repproduksi menyebabkan lahirnya hak-hak reproduksi. Berdasarkan pasal tersebut hak-hak reproduksi didasrkan pada pengakuan hak-hak asasi semua pasangan dan pribadi untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, penjarangan anak(birth spacing), dan menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka  dan mempunyai informasi dan cara  untuk memperolehnya, serta hak untuk menentukan standar tertinggi kesehata seksual dan repsroduksi. Dalam pengertin ini ada jaminan individu untuk memperoleh seks yang sehat di samping reproduksi yang sehat(ICPD, 1994). Sudah barang tentu saja kedua faktor tersebut akan sangat mrempengaruhi tercapainya atau tidak kesehatan reproduksi seseorang, termasuk kesehatan reproduksi remaja.

D. PERILAKU SEKSUAL BERESIKO PADA REMAJA SAAT INI
   Seperti telah dikemukakan di bagian pendahuluan, cbanyak penelitian dan berita di media massa yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah di Indonesia. Sebenarnya perilaku seksual remaja pranikah sudah ada sejak dahulu. Tetapi informasi tentang perilaku tersebut cenderung tidak terungkap secara luas. Sekarang kondisi masyarakat telah berubah, dengan telah makin terbuka nya arus inforrmasi, makin banyak pula penelitian, studi yang mengungkapkan permaslahan perilaku seksual remaja, termasuk hubungan seksual pranikah. Di Indonesia sendiri ada beberapa penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah. Berikut ini ada beberapa penelitian kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan fenomena tersebut.
   Pada tahun 1981, Pangkahila melakukan penelitian di Bali terdapat ABG(anak baru gede) ternyata pengalaman seksual mereka lebih jauh. Terdapat 56,0% dari mereka pernah melakukan ciuman bibir, 31,0% yang pernah diransang alat kelamin nya, dan bahkan pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 25,0%. Satu tahun kemudian, Sarlito (1982) melakukan penelitian di Jakarta, ternyata hanya 75,0% responden remaja putri yang diteliti masih menjaga kegadisan nya. Artinya, 25,0% remaja putri telah melakukan hubungan seks. Kemudia penelitian di Yogyakarta(1985) terungkap bahwa 13,0% dari 864 pernikahan yang di dahului oleh kehamilan. Dan pada Tahun 1985 hasil penelitian Biran Affandi menunjukkan bahwa 80,0% dari remja yang hamil melakukan hubungan seksual di rumah mereka sendiri.
   Pada tahun 1989 penelitian yang dilakukan oleh fakultas psikologi UI juga menunjukkan bahwa ada 61,0% anak usia 16-20 tahun pernah melakukan seksual intercourse (senggama) dengan teman nya. Dan suatu penelitian terhadap siswa  SMTP di Bandung ternyata terdapat 10,53% dari mereka pernah melakukan ciuman bibir, 5,60% pernah melakukan ciuman dalam, dan 3,86% pernah melakukan hubungan seksual. Penelitian yang dilakukan oleh sebuah majalah mingguan ibukota dengan responden 100 orang pelajar dari 26 SMA di Jakarta, menunjukkan bahwa 41,0% pernah mencoba alat vital lawan jenis, dan 12,o%pernah menyenggol. hanya 1,0% saja yang tidak pernah mengalami hubungan seks dengan lawan jenis. Walaupun masih diperdebatkan dkebenaran hasil penelitian tersebut palingtidak data diatas mengingatkan kita betapa besarnya masalah perilaku seks pada remaja.
   Hasil yang tidak begitu jauh berbeda juga dengan yang terjadi pada mahasiswa. Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta (Dasakung 1984) mengungkapkan bahwa 62% mahasiswa melakukan dengan istilah “kumpul kebo” surve kecil yang dilakukan oleh fakultas psikologi UI(1993) terhadap 200 Responden  menunjukkan bahwa alasan yang di kemukakan oleh sebagian mahasiswa adalah untuk mengungkapkan kasih sayang (36,20%), terbawa suasana (14,0%), dan untuk kenikmatan dan kesenangan (10,1%). Masih banyak lagi hasil penelitian yang menggambarkan fenomena perilaku seksual remaja pranikah, di antaranya disajikan pada tabel di bawah ini.
  Tabel 1
Perilaku, Tindakan Waktu Pacaran Remaja DKI Jakarta Dan DI Yogyakarta
NO
Perilaku, Tindakan
DKI
DIY
DKI+DIY
N
%
N
%
N
%
1
Berkunjung kerumah, bercanda
512
42.9
478
39.8
990
41.3
2
Cium pipi
141
11.8
147
12.3
288
12.0
3
Cium bibir
330
27.6
277
23.1
607
25.4
4
Memegang buah dada
86
7.2
143
11.9
229
9.6
5
Memegang alat kelamin
75
6.3
105
8.7
180
7.5
6
Berhubungan seks
50
4.2
40
4.2
90
4.2
sumber: RamlBandy, dkk., 1995
   Bila kita lihat kecenderungan perilaku seksual remaja pranikah berdasarkan tempat tinggal mereka, ternyata baik di desa maupun di kota perilaku tersebut juga sangat memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan oleh Faturochman dan Soetjipto di Bali (1989) menunjukkan bahwa persentase remaja laki-laki di desa dan di kota telah melakukan hubungan seks masing-masing adalah 23,6% dan 33,5%. Sedangkan penelitian Singarimbun (1994) menemukan 1,8% remaja wanita di desa san 36% remaja wanita di kota pernah melakukan hubung an seks pranikah. Penelitian dilakukan oleh Laboratorium Antropologi FISIP UI Hidayan dan Saefuddin, (1997) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan perilaku seksual yang cukup mencolok pada remaja di desa dan remaja di kota di Sumatera Utara dan Di Kalimantan Selatan. Dikedua tempat penelitian itu terlihat ada kecenderungan perilaku seksual yang permisif baik di desa maupun di kota.  
Faktor-faktor yang saling terkait kondisi saat ini menyebabkan perilaku seksual remaja semakin menggejala akhir-akhir ini. Namun begitu,banyak remaja tidak mengindahkan bahkan tidak tahu dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan dan dampak nya terhadap kesehatan reproduksi baik dalam waktu cepat ataupun waktu yang lebih panjang. sehubung dengan defenisi  kesehatan reproduksi yang telah di bahas terlebih dahulu, berikut ini akan dibahas  mengenai beberapa dampak perilaku seksual remaja pranikah terhadap kesehatan reproduksi.
1.      Hamil Yang Tidak Di Kehendaki(Hamil di luar Nikah(Unwanted Pregnancy)
Unwanted pregnacy(kehamilan yag tidak di kehendaki) merupakan salah satu akibat dari perilaku seksual remaja. Anggapan-anggapan yang keliru seperti: melakukan hubungan sek pertama kali, atau hubungan seks jarang dilakukan, atau perempuan masih muda usia nya, atau bila hubungan seks dilakukan sebelum atau sesudah menstruasi, atau bila menggunakan tehnik coitus interuptus (senggama terputus), kehamilan tidak akan terjadi merupakan pencetus semakin banyak kasus unwanted pregnancy. Seperti salah satu pada kasus penelitian Khisbiyah(1995) ada responden mengatakan, Untuk menghindari kehamilan maka hubungan seks dilakukan di antara dua waktu menstruasi. Informasi itu tentu saja bertentangan dengan kenyataan bahwa sebenarnya masa antara dua siklus menstruasi itu merupakan masa subur bagi seorang wanita.
Unwanted pregnancy membawa remaja kepada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau menggugurkan nya. Menurut Khisbyah(1995) secara umum ua faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan itu, yakni faktor internal dan faktor eksternal.
a.       Faktor internal meliputi, Intensitas hubungan dan komitmen pasangan remaja untuk menjalin hubungan jangka panjang dalam perkawinan, sikap dan persepsi terhadapjanin yang dikandung, serta persepsi subjektif mengenai kesipan psikologis dan ekonomi untuk memasuki kehidupan perkawinan.
b.      Faktor Eksternal meliputi sikap dan penerimaan orang tua kedua belah pihak, penilaian masyarakat, nilai-nilai normatif, dan etis dari lembaga keagamaan, dan kaemungkinan-kemungkinan perubahan hidup dimasa depan yang mengikuti pelaksanaan keputusan yang akan dipilih.

Terlepas dari alasan di atas, yang pasti melahirkan dalam usia remaja(early childbearing) dan melakukan aborsi merupakan pilihan yang harus mereka jalani. Banyak remaja putri yang mengalami unmanted pregnancy terur melanjutkan kehamilan nya. Konsekuensi dari keputusan yanng mereka ambil itu adalah  melahirkan anak yang dikandung nya dalm usia yang relatif muda. Hamil dan melahirkan dalam usia remaja merupakan salah satu faktor resiko kehamilan yang tidak jarang membawa kematian ibu. Krmatian ibu yang hamil dan melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun lebih besar 3-4 kali dari kematian ibu yang hamil dan melahirkan pada usia 20-35 tahun (affandi,1995).
Menurut Wibowo(1994) terjadi pendarahan pada trimester pertama dan ketiga, anemia, dan persalinan kasip merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kehamilan remaja. Sebenarnya hal itu bisa di atasi atau dikurangi dengan pemeriksaan kehamilan(ante natal care), tetapi karena ada rasa malu (dia telah mengalami unwanted pragmancy di luar nikah). pelayanan kesehatan yang sudah tersedia jarang di manfaatkan. Selain itu, kehamilan di usia muda juga berdampak pada anak yang di kandung. Kejadian berat bayi lahir rendah(BBLR) dan kematian perinatal sering dialami oleh bayi-bayi yang lahir dari ibu usia muda. Menurut Affandin (1995) tingkat kematian pada ibu muda usia mencapai 2-3 kali dari kematian anak yang berusia 20-35 tahun.
2.      Penyakit Menular seksual (PMS)- HIV/AIDS
Dampak perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah tertular PMS termasuk HIV/AIDS. seringkali remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman. Adanya kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan remaja seakin rentan untuk tertular PMS/HIV, seperti sifilis,genore, herpes, klamidia, dan AIDS. Dari daata yang menunjukkan bahwa di antara penderita atau kasus HIV/AIDS, 53% berusia di antara 15-29 tahun. Tidak terbatasnya cara melakukan hubungan kelamin pada genital-genital saja(bisa juga oroginital). menyebabkan penyakit kelamin tidak saja terbatas pada daerah genital, tetapi dapat juga pada daerah-daerah ekstra genital.
Gejala penyakit AIDS merupakan manifestasi rendahnya kadar limposit T helper, yang  secara bertahap dirusak HIV.segera sesudah terinfeksi HIV, jumlah limfosit helper akan berkurang  dari sekitar 2.000/  menjadi kurang lebih  1.000  dan kemudian secara bertahap jumlah nya makin berkurang. Limfosit T memegang  peran penting dalam sistem kekebalan tubuh  manusia, sehingga bila jumlah dan fungsinya  terganggu  menyebabakan seseorang mudah diserang  penyakit infeksi dan kangker. Dengan menurun nya  sel limposit T4, makin jelas tampak gejala klinis yang dapat dibedakan menjadi beberapa keadaan, yaitu:
1.      Gejala dan keluhan yaang disebabkan oleh hal-hal tidak langsung berhubungan dengan HIV, seperti: diare, demam lebih dari 1 bulan, keringat malam, rasa lelah berlebihan, batuk kronis lebih dari 1 bulan, dan penurunan berat bada 10% atau lebih. Apabila yang mencolok adalah  penurunan berat badan, maka ini merupakan salah satu indikator AIDS.
2.      Gejala langsung akbat HIV, seperti :miopati, neuropati perifer, dan penyakit susunan saraf otak, hampir 30 % pasien dalam stadium akhir AIDS akan menderita dementia kompleks, yaitu menurun sampai hilang nya daya ingat, gangguan flingsi  motori dan kognitif, sehingga pasien sulit berkomunikasi dan tidak bisa jalan.
3.      Infeksi oportunistik dan neoplasma: pada stadium kronis simtomatik ini sangat sedikit keluhan dan gejala yang benar-benar langsung akibat HIV. Sebagian besar adalah akibat menurun nya se limposit T4, sehingga dengan  terganggunya sentral sistem imun seluler ini, maka infeksi oportunistik yang sering di alami adalah infeksi virus, parasit, dan mikobakterium. Neoplasma yang dikenal sebagai penyakit indikator AIDS adalah sarkoma kaposi dan limpoma sel B.
   Masa inkubasi adalah waktu dari terjadinya infeksi sampai munculnya gejala penyakit yang ditimbulkan HIV yang pertama pada pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diketahui. Dari penelitian pada sebagian beasar kasus dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10 tahun berfariasi sangat leba, yaitu antara bulan sampai lebih dari 10 tahun. Walupun tanpa gejala ,tetapi yang bersangkutan dapat menjadi sumber penularan.

3.      Psikologis
Ciri perkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih, putus asa) dan kemudian melawan dan memberontak. Emosi tidak terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang senang dialami remaja. Oleh karena itu, perkembangan psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja.
Keadaan emosi pada masa remaja masih labil karena erat dengan keadaan hormon. Suatu saat remaja dapat sedih sekali, dilain waktu dapat marah sekali. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri sendiri daripada pikiran yang realistis. Kestabilan emosi remaja dikarenakan tuntutan orang tua dan masyarakat yang akhirnya mendorong remaja untuk menyesuaikan diri dengan situasi dirinnya yang baru. Hal tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Hurlock (1990), yang mengatakan bahwa kecerdasan emosi akan mempengaruhi cara penyesuaian pribadi dan sosial remaja. Bertambahnya ketegangan emosional yang disebabkan remaja harus membuat penyesuaian terhadap harapan masyarakat yang berlainan dengan dirinya.
Menurut Mappiare (dalam Hurlock, 1990) remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau begitu saja menerima pendapat dan perintah orang lain, remaja menanyakan alasan mengapa sesuatu perintah dianjurkan atau dilarag, remaja tidak mudah diyakinkan tanpa jalan pemikiran yang logis. Dengan perkembangan psikologis pada remaja, terjadi kekuatan mental, peningkatan kemampuan daya fikir, kemampuan mengingat dan memahami, serta terjadi peningkatan keberanian dalam mengemukakan pendapat.
Dampak lain dari perilaku  seksual remaja yang sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah konsekuensi psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan- atau tepatnya korban- utama dalm masalah ini. Kodrat untuk hamil dan melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam pandangan masyarakat, remaja putri yang merupakan “aib” keluarga, yang secara telak mencoreng nama baik keluarga; dan ia adalah si pendosa yang melanggar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman sosial ini tidak jarang meresap dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putri tersebut. Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah yang di alami remaja setelah mengetahui kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang disertai rasa benci dan marah baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik, sosial, dan mental yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi.

A.     Penyebab Kenakalan Remaja
   Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
a.       .Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
b.      Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal:
a.       Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
b.      Teman sebaya yang kurang baik
c.       Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

E. PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA
1.       Peranan Keluarga terhadap Kenakalan Remaja
   Sarwono (1998) mengatakan bahwa keluarga merupakan lingkungan primer pada setiap individu. Sebelum anak mengenal lingkungan yang luas, ia terlebih dahulu mengenal lingkungan keluarganya. karena itu sebelum anak anak mengenal norma-norma dan nilai-nilai masyarakat, pertama kali anak akan menyerap norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di keluarganya untuk dijadikan bagian dari kepribadiannya.
   Orang tua berperan penting dalam emosi remaja, baik yang memberi efek positif maupun negative. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua masih merupakan lingkungan yang sangat penting bagi remaja.
   Menurut Mu’tadin (2002) remaja sering mengalami dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak orang tua atau mengikuti kehendaknya sendiri. Situasi ini dikenal dengan ambivalensi dan hal ini akan menimbulkan konflik pada diri remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam  penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan  dalam beberapa kasus tidak jarang remaja menjadi frustasi dan memendam kemarahan yang mendalam kepada orang tuanya dan orang lain disekitarnya. Frustasi dan kemarahan tersebut seringkali di ungkapkan dengan perilaku perilaku yang tidak simpatik terhadap orang tua maupun orang lain yang dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya.
   Penilitian yang dilakukan BKKBN pada umunya masalah antara orang tua dan anaknya bukan hal hal yang mendalam seperti maslah ekonomi, agama, social, politik, tetapi hal yang sepele seperti tugas-tugas di rumah tangga, pakaian dan penampilan.
   Menurut Nalland (1998) ada beberapa sikap yang harus dimiliki orangtua terhadap anaknya pada saat memesuki usia remaja, yakni :
a.       Orang tua perlu lebih fleksibel dalam bertindak dan berbicara
b.      Kemandirian anak diajarkan secara bertahap dengan mempertimbangkan dan melindungi mereka dari resiko yang mungkin terjadi karena cara berfikir yang belum matang. Kebebasan yang dilakukan remaja terlalu dini akan memudahkan remaja terperangkap dalam pergaulan buruk, obat-obatan terlarang, aktifitas seksual yang tidak bertanggung jawab dll
c.       Remaja perlu diberi kesempatan melakukan eksplorasi positif yang memungkinkan mereka mendapat pengalaman dan teman baru, mempelajari berbagai keterampilan yang sulit dan memperoleh pengalaman yang memberikan tantangan agar mereka dapat berkembang dalam berbagai aspek kepribadiannya.
d.      Sikap orang tua yang tepat adalah sikap yang authoritative, yaitu dapat bersikap hangat, menerima, memberikan aturan dan norma serta nilai-nilai secara jelas dan bijaksana. Menyediakan waktu untuk mendengar, menjelaskan, berunding dan bisa memberikan dukungan pada pendapat anak yang benar.



BAB III  PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah di jelaskan di atas kita dapat mengambil urain atau rangkuman dari materi diatas dengan kesimpulan:
1.      Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
2.      Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
3.      Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik.

B.     SARAN
Perilaku yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam yang orangtua berikan, hingga kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya. sebaiknya sebagai Orang tua lebih memperhatikan sang anak, memberikan nasehat-nasehat, memberi kebutuhan yang cukup, dan sebagai anak sebaiknya menurut apa kata orang tua, boleh bergaul akan tetapi pada orang-orang yang bersifat membangun dan mengontrol diri terhadap kemajuan jaman atau arus globalisasi.





DAFTAR PUSTAKA


Agustina,Farida Mutiarawati Tri. 1995. sexual Health Prevention and Promotion inYouth. Institute of Population Studies, University of Exerter.
Depkes RI. 1995.  Kumpulan Materi Kesehatan Reproduksi Remaja. _ .1996.
Hidayah, Irwan Martua et al. 1997. “Perilaku Seksual Remaja di Kota dan di Desa Kasus Sumatera Utara. Laboratorium Antropologi FISIP UI”. Fenomena Perilaku Seksual Remaja Pranikah dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Reproduksi.
Http//:www.Indonesia health.com.
Khbisyah, Y. et. al.1995. Konsekuensi Psikologi dan Sosial, Ekonomi yang Menyertai Kehamilan yang Tak di Kehendaki di Kalangan Remaja. Yogyakarta: Pusat Kajian Strategi dan Kebijakan.
Korip, Mon Dastri. 1998. Kumpulan Kuliah Epidemiologi AIDS, Fase Klinis Infeksi HIV. Jakarta:FKM UI. (oleh Tri Kurniasih).
Mboi, Nafsiah. 1995. “Pahami Remaja dari Sisi Positif nya.” Warta Demografi, Tahun ke-25 no. 24:11-17
Que Vadis. “ Study Perilaku Seksual Remaja Indonesia.” Warta Demografi, Tahun ke-25 No. 4:36-42.
Ramonasari. 1995. “Perilaku Remaja dan Kesehatan Reproduksi.” di dalam Kumpulan Makalah Seminar Hak dan Kesehatan Reproduksi: Implikasi Pasal 7 Rencana Tindakan Kairo Bagi Indonesia Yogyakarta.
Sahaja-lentera PKBIDIY.AIDS dan Kesehatan Reproduksi (Baku Pegangan Peer Educator). PKBI DIY
www.blogger. Arman, Simanjuntak. 2014. Kenakalan Remaja. Jakarta




 ini 

1 komentar: